![]() |
| Legenda bulu tangkis tunggal putri Indonesia, Susi Susanti. |
JATENGPOSNEWS.COM, KUDUS-Legenda bulu tangkis tunggal putri Indonesia, Susi Susanti, menyoroti pergeseran mentalitas dan tantangan ekosistem bulu tangkis modern tanah air. Di tengah fasilitas olahraga yang kian mewah dan sokongan tim ahli yang komplet, Susi mengingatkan agar para atlet muda tidak kehilangan kemandirian dan daya juang di atas lapangan.
Menurut peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 ini, perbedaan mencolok antara generasinya terdahulu dengan generasi masa kini terletak pada fasilitas. Dahulu, keterbatasan dana dan sarana memaksa atlet untuk mandiri dan merangkap berbagai peran secara autodidak, mulai dari memahami pemenuhan gizi hingga membaca kondisi fisik pribadi.
‘’Sementara saat ini, para atlet telah dimanjakan oleh dukungan sport science, dokter, masseur, hingga ahli gizi yang komplet,’’ jelasnya.
Namun, kenyamanan ini memicu kekhawatiran baru bagi Susi. Ia menegaskan bahwa solidnya tim pendukung jangan sampai mengikis rasa tanggung jawab atlet di lapangan.
‘’Jangan sampai dengan tim yang cukup solid ini, atlet tidak punya tanggung jawab dan hanya asal main saja. Mereka juga harus menganalisa, jangan mengandalkan pelatih. Karena yang bermain di lapangan itu adalah atlet itu sendiri,’’ tegas Susi.
Susi juga mengkritik kecenderungan atlet modern yang terlalu mendiktekan keputusan kepada pelatih saat bertanding. Menurutnya, juru taktik di pinggir lapangan tidak boleh berubah fungsi menjadi pengasuh yang mendikte setiap pergerakan.
‘’Yang utama pada saat pertandingan, atlet itu yang menentukan. Jangan sampai pelatih itu menjadi baby sister buat atletnya, di mana setiap poin harus diberi tahu. Atlet harus punya inisiatif sendiri dan punya strategi yang memang sudah didiskusikan,’’ imbuh Ketua Klub Jaya Raya tersebut.
Ia menambahkan, pelatih idealnya hanya berfungsi sebagai pengingat di momen-momen kritis, seperti saat atlet kehilangan konsentrasi atau mengalami kebuntuan (black out).
Peta Persaingan Global yang Kian Merata
Menyoroti sektor tunggal putri Indonesia yang masih minim
bibit dibanding sektor putra, Susi yang kini aktif membina talenta muda dari
usia dini hingga junior di tingkat klub (Jaya Raya, Djarum, dan Mutiara)
menilai tantangan global saat ini jauh lebih berat.
Masuknya bulu tangkis secara permanen di Olimpiade memicu ledakan peta kekuatan baru, bahkan melahirkan juara dari negara-negara non-tradisional bulu tangkis.
Faktor lain yang mempercepat pemerataan ini adalah larisnya pelatih-pelatih asal Indonesia di kancah internasional, termasuk di negara raksasa seperti China. Dampaknya, program latihan dan penerapan sport science antarnegara kini menjadi mirip.
Dalam situasi di mana kemampuan teknis dan program latihan dunia sudah setara, Susi menyebut faktor pembeda utama kini kembali pada karakter personal sang atlet.
‘’Sekarang persaingan sudah rata semua. Yang menentukan pada
akhirnya adalah bibit kita, kerja keras kita, termasuk atletnya juga.
Pembentukan karakter, keinginan, tekad yang kuat, serta menjadi petarung dalam
setiap pertandingan adalah kunci. Siapa yang bisa bermain lepas, berani, dan
cerdik mengeksekusi strategi di lapangan, dialah yang akan menang, tidak peduli
berapa pun peringkatnya,’’ pungkas Susi. (han)

Posting Komentar