Top News

Bertahan Enam Dekade, Semur Kutuk 'Lek Safa'ah' Setia Manjakan Lidah Pelanggan

Mbah Safa'ah menyajikan lauk Semur Kutuk yang menjadi khas warung makan 'Semur Kutuk Lek Safa'ah'. 

JATENGPOSNEWS.COM, KUDUS-Bau harum bumbu bawang khas langsung menusuk hidung, saat memasuki Warung Semur Kutuk 'Lek Safa’ah' yang beralamat di Jalan Kudus-Pati KM 7 Nomor 19 turut Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Warung makan legendaris ini menjadi saksi bisu perjalanan kuliner khas Kudus, yang mampu bertahan melintasi tiga generasi sejak tahun 1965.

Perjalanan warung ini dimulai pasca-kemerdekaan RI oleh generasi pertama, Mbah Kasti. Awalnya, usaha kuliner ini berjalan sangat sederhana di sebuah warung dinding bambu (gedek) yang lokasinya jauh dari rumah. Memasuki era 1990-an, tongkat estafet beralih ke generasi kedua sebelum akhirnya menetap di rumah sendiri sejak tahun 2000-an dan kini dikelola oleh generasi ketiga, Safa'ah (58).

Menu utama yang menjadi primadona tentu saja adalah semur ikan kutuk atau ikan gabus. Proses pengolahannya mempertahankan cara tradisional,"Ikan kutuk digoreng terlebih dahulu sebelum kemudian dimasukkan ke dalam kuah semur," ujar perempuan yang akrab disapa Mbah Safa'ah ini.

Selain ikan, pelanggan juga bisa menikmati semur telur bebek bacem atau kecap. Meski demikian, kuah semur selalu membanjiri piring. 

Soal ketersediaan ikan kutuk segar, didapat langsung dari pasar lokal untuk menjaga kualitas rasa. Untuk menikmati satu porsi lengkap berupa nasi, semur kutuk, dan teh hangat, pelanggan cukup merogoh kocek Rp35.000. 

Warung ini juga menyediakan versi praktis berupa nasi bungkus kutuk seharga Rp30.000 per porsi dan nasi telur ekonomis seharga Rp5.000 saja. Meski demikian, tantangan zaman tidak bisa dihindari. Mbah Safa'ah mengakui bahwa minat pembeli kini mulai berkurang dan warung cenderung lebih sepi. 

Salah satu faktor sepinya pembeli adalah hilangnya sejumlah pelanggan setia generasi terdahulu karena faktor usia dan meninggal dunia. Rentang waktu jualan pun kini sangat singkat. Warung hanya buka mulai pukul 15.30 WIB dan biasanya sudah tutup pada pukul 18.00 WIB. 

Stok ikan yang diolah pun kini terbatas, rata-rata hanya dua ekor ikan kutuk besar dengan berat 2 kilogram, yang dipotong menjadi sekitar 10 irisan per hari. Walau pembeli tidak seramai dulu, kelezatan Semur Kutuk Lek Safa’ah ini tetap diburu oleh para pencinta kuliner lawas.

Pelanggan setia dari luar kota seperti Semarang bahkan rela datang jauh-jauh ke Hadipolo demi menuntaskan rindu pada cita rasa autentik yang konsisten terjaga selama 61 tahun ini.

"Pembeli ada yang dari Semarang, yang kebetulan punya saudara di Kudus," ungkapnya. (han)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama