Cuci Darah Seumur Hidup, JKN Jadi Penopang Ekonomi Keluarga Latifa


JATENGPOSNEWS.COM Pati - Program Jaminan Kesehatan Nasional tidak hanya memberikan jaminan pelayanan kesehatan, tetapi juga menghadirkan perlindungan finansial bagi pesertanya. Di Kabupaten Pati, manfaat tersebut dirasakan langsung oleh Rachma Latifa Masturi (47), yang telah terdaftar sebagai peserta JKN sejak tahun 2014. Ia mengaku kehadiran program ini menjadi penopang utama kestabilan ekonomi keluarganya, terutama sejak sang suami harus menjalani terapi cuci darah rutin dalam satu tahun terakhir.

Dengan kepesertaan segmen pekerja bukan penerima upah (PBPU) kelas 1, Latifa menuturkan bahwa awalnya ia dan keluarga mendaftar sebagai bentuk perlindungan kesehatan jangka panjang. Namun, ia tidak menyangka bahwa manfaat ekonomi dari JKN benar-benar terasa ketika suaminya, Amin Saifulloh (47), divonis harus menjalani hemodialisis dua minggu sekali selama seumur hidup di RSUD RAA Soewondo Pati.

Menurut Latifa, biaya cuci darah tanpa jaminan kesehatan tidaklah kecil. Ia memperkirakan satu kali tindakan dapat menelan biaya lebih dari satu juta rupiah. Jika dilakukan dua kali dalam sebulan, jumlah tersebut tentu menjadi beban yang sangat berat bagi keuangan keluarga.

“Kalau harus bayar sendiri, sekali cuci darah bisa lebih dari satu juta rupiah. Sementara suami saya harus cuci darah dua minggu sekali dan itu dilakukan terus-menerus. Dengan penghasilan kami yang tergolong cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tentu ini bisa sangat mengganggu ekonomi keluarga,” ungkapnya saat ditemui pada Kamis (19/02).

Ia menjelaskan bahwa keberadaan JKN membuat keluarganya tidak perlu memikirkan biaya besar setiap bulan untuk pengobatan. Iuran yang dibayarkan secara rutin dinilainya jauh lebih ringan dibandingkan potensi pengeluaran yang harus ditanggung apabila tidak menjadi peserta JKN.

“Sejak terdaftar tahun 2014 sampai sekarang, saya benar-benar merasakan manfaatnya. Iuran yang kami bayarkan setiap bulan tidak sebanding dengan biaya pengobatan yang harus ditanggung kalau tanpa JKN. Ini sangat membantu menjaga kestabilan ekonomi keluarga kami,” tuturnya.

Latifa menambahkan, perlindungan finansial inilah yang membuat dirinya merasa lebih tenang dalam mendampingi suami menjalani pengobatan jangka panjang. Ia tidak lagi dihantui kekhawatiran harus mencari dana besar secara mendadak setiap kali jadwal terapi tiba.

“Sekarang saya tidak lagi cemas memikirkan biaya setiap kali jadwal cuci darah datang. Kami bisa lebih fokus pada kesehatan suami dan kebutuhan keluarga sehari-hari. Kalau tidak ada JKN, mungkin kami harus mencari pinjaman atau menjual aset untuk menutup biaya pengobatan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa iuran yang dibayarkan setiap bulan jauh lebih ringan dibandingkan potensi biaya yang harus dikeluarkan apabila pengobatan ditanggung secara mandiri. Menurutnya, JKN benar-benar menjadi bentuk perlindungan nyata bagi keluarga dengan penghasilan yang terbatas namun memiliki risiko penyakit kronis.

“Bagi kami, JKN bukan hanya jaminan Kesehatan saja, tetapi penyelamat ekonomi keluarga. Dengan program ini, kami tetap bisa menjalani pengobatan rutin tanpa harus mengorbankan kebutuhan lain,” tuturnya(*)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama