Atasi Limbah Organik, Mahasiswa KKN Undip Ajari Warga Sironjang Bikin Komposter Mini


Ditulis oleh: Mahasiswa KKN Tim II IDBU-38 Kelurahan Pakintelan, Universitas Diponegoro 2026

SEMARANG, Senin (20/7/2026) — Tim 38 KKN Tematik Inovasi, Desain, dan Bisnis Universitas Diponegoro (IDBU Undip) memperkenalkan mini komposter kepada warga Kampung Sironjang, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Sosialisasi dan demonstrasi digelar di Balai Pertemuan RT 4, menyasar warga RW 1 yang terdiri dari empat RT.

Program ini lahir dari kondisi nyata di lapangan. Sampah organik rumah tangga dan peternakan di Sironjang belum dikelola dengan baik, padahal kampung ini tengah dikembangkan sebagai kawasan agroekokultural berbasis urban farming yang seharusnya bisa memanfaatkan limbah organik sebagai bahan baku pupuk.

Materi dipaparkan langsung oleh Ketua Tim, Adnan, yang menekankan nilai ekonomi dari program ini. "Pupuk hasil mini komposter ini nantinya bisa dijual, jadi bisa menambah pendapatan warga juga," ujarnya. Ketua RT 4 pun menyambut baik kegiatan ini sebagai langkah nyata mengubah kebiasaan warga dalam mengelola sampah rumah tangga. Antusiasme warga terlihat tinggi sejak sesi pemaparan berlangsung, banyak pertanyaan dilontarkan mulai dari jenis limbah yang bisa diolah hingga cara merawat komposter agar hasilnya maksimal.

Mini komposter yang diperkenalkan berupa ember bekas bertutup yang mengolah limbah organik menjadi pupuk. Ada dua jenis yang diajarkan: aerob dan anaerob. Komposter aerob mengandalkan sirkulasi udara bebas sehingga wadahnya diberi lubang dan bahan di dalamnya perlu diaduk rutin, proses pengomposan pun berlangsung lebih cepat secara alami. Komposter anaerob bekerja dalam kondisi kedap udara — wadah cukup ditutup rapat tanpa perlu diaduk, cocok untuk warga yang tidak sempat merawatnya setiap hari, dan menghasilkan dua produk sekaligus: kompos padat dan pupuk organik cair.

Alat yang dibutuhkan berupa ember bekas bertutup, solder atau bor, pisau, kran, dan lem. Bahannya limbah rumah tangga atau peternakan, ditambah EM4 dan molase sebagai aktivator. EM4 berisi mikroorganisme aktif yang mempercepat penguraian sampah organik, sedangkan molase berfungsi sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme agar berkembang biak. Cara membuat larutan aktivatornya cukup campurkan 5 ml EM4 dengan molase yang sudah dilarutkan air, encerkan hingga 1 liter, lalu semprotkan ke bahan organik secara merata.

Setelah pemaparan, warga langsung diajak praktik membuat kedua tipe komposter secara bergantian. Mahasiswa memandu tahap demi tahap mulai dari melubangi ember, memasang kran, menyusun sistem dua lapis, hingga memasukkan bahan organik dan menyemprotkan larutan aktivator.

Mahasiswa juga membagikan ciri kompos yang sudah siap pakai: warna cokelat muda, tidak berbau busuk, tekstur menyerupai tanah, dan tidak panas saat dipegang. Pupuk cair bisa digunakan setelah dua minggu dengan cara diencerkan perbandingan 1:10 lalu disemprotkan tiap 7 hingga 10 hari. Pupuk padat membutuhkan waktu sekitar satu bulan hingga benar-benar matang.

Sebagai tindak lanjut, setiap RT di Kampung Sironjang mendapat dua unit mini komposter, satu aerob dan satu anaerob, supaya warga bisa mencoba dan membandingkan sendiri metode yang paling cocok dengan kondisi lingkungan mereka. Kegiatan ini mendukung SDGs poin 2 tentang Zero Hunger dan poin 11 tentang Sustainable Cities and Communities. Tim IDBU-38 berharap pendampingan yang terus dilakukan selama masa KKN bisa memastikan warga Sironjang mampu mengelola limbah organik secara mandiri dan berkelanjutan, sesuai visi Kampung Sironjang sebagai kawasan agroekokultural yang produktif dan ramah lingkungan.*

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama