Garuda Pertiwi Cetak Sejarah Penguasaan Bola, Timo Scheunemann Pilih Setia Jadi ‘Gatekeeper’

Pelatih Kepala Timnas Indonesia U-16 Garuda Pertiwi, Timo Scheunemann

JATENGPOSNEWS.COM, KUDUS-Tim Nasional Sepak Bola Putri Indonesia, Garuda Pertiwi, menyudahi perjuangan di ajang Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 dengan kepala tegak. Meski gagal jadi ‘The Champion’, setelah takluk tipis 0-1 dari Thailand, performa spartan skuad asuhan Timo Scheunemann menuai pujian luar biasa.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia mampu mendominasi penguasaan bola hingga 51 persen saat menjamu tim tangguh asal Negeri Gajah Putih itu.

Dalam konferensi pers usai pertandingan, Pelatih Kepala Timo Scheunemann tidak mampu menyembunyikan rasa bangganya terhadap perjuangan anak asuhnya. Jadwal turnamen yang super padat, lima pertandingan dalam sepuluh hari, menjadi ujian fisik dan mental yang sangat berat bagi skuad yang mayoritas dihuni remaja usia 14 hingga 16 tahun tersebut.

‘’Untuk pemain profesional saja jadwal seperti ini sangat susah, apalagi untuk anak-anak perempuan usia belasan tahun. Butuh mental luar biasa dan jiwa pejuang. Itu mereka tunjukkan hari ini. Walau kelelahan, mereka tetap memberikan 100 persen,’’ ujar Timo, dalam konferensi pers.

Sambungnya, kekalahan ini terasa menyakitkan bagi Timo karena diraih lewat skema bola mati (set piece), di saat organisasi permainan Indonesia tampil solid. Ia meyakini, jika laga berlanjut hingga babak adu penalti, Garuda Pertiwi memiliki peluang besar untuk menang.

‘’Kita tidak jomplang, jarak kita dengan Thailand sekarang sangat tipis. Ini pencapaian luar biasa,’’ tambahnya.

Tolak Sentuh Tim Senior

Keberhasilan Timo mengangkat performa tim muda memicu spekulasi terkait masa depannya. PSSI dikabarkan mulai mempertimbangkan pelatih berdarah Jerman tersebut untuk menukangi Timnas Putri Senior. Namun, Timo secara tegas menolak wacana tersebut.

‘’Tidak ada tanggapan untuk senior. Jiwa saya adalah membina dan menciptakan pemain. Saya lebih melihat peran saya sebagai gatekeeper (penjaga gerbang) di kelompok umur, maksimal U-20. Saya ingin memastikan pemain yang lolos ke tingkat senior adalah mereka yang benar-benar memiliki kualitas, objektivitas, dan pemahaman taktis yang matang,’’ tegas Timo.

Ia juga menyoroti aspek krusial dalam pembinaan atlet putri, salah satunya adalah pencegahan cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL),’’Fisik pesepak bola wanita sepuluh kali lebih rentan terkena cedera ACL dibanding pria. Mereka harus diproteksi, tidak bisa asal digenjot latihan berat dua kali sehari tanpa penguatan yang benar,’’ jelasnya.

Eksosistem Mulai Tumbuh

Meningkatnya animo penonton, baik yang hadir langsung di tribun maupun melalui tayangan streaming, diharapkan menjadi momentum kebangkitan sepak bola putri nasional. Timo mengimbau para orang tua di seluruh Indonesia untuk tidak lagi ragu mendukung anak perempuan mereka bermain sepak bola.

Apalagi, PSSI kini mulai serius memetakan kompetisi berjenjang, mulai dari turnamen antar-SD, Sekolah Sepak Bola (SSB), Liga Kampus, hingga kompetisi semi-profesional regional (Liga 3).

‘’Sudah tidak ada alasan bagi orang tua untuk melarang. Lewat sepak bola, anak-anak perempuan ini bisa mendapat beasiswa kuliah, masuk TNI, Polri, atau bahkan menjadi pemain profesional. Kita sedang membangun ekosistem dari bawah, dan mentalitas spartan tanpa ego 'diva' yang ditunjukkan tim saat ini adalah pondasi masa depan kita,’’ tutup Timo. (adm)

 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama