Ratusan guru TK dan RA se Kabupaten Kudus foto bersama usaia seremoni penutupan program AJARI batch 4, di ruang Samanea Saman OASIS Djarum Factory Kudus, Selasa (23/6/2026)
JATENGPOSNEWS.COM, KUDUS-Menyambut visi besar Indonesia Emas, penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas tinggi wajib diinisiasi sejak usia dini. Menyadari peran krusial tersebut, para pendidik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Kudus kini mulai meninggalkan metode hafalan konvensional (drilling) dan beralih ke pendekatan budaya inkuiri melalui Program AJARI (Aku Pembelajar Inkuiri).
Program rutin besutan Bakti Pendidikan Djarum Foundation yang bersinergi dengan Pusat Belajar Guru (PBG), Kementerian Agama, serta Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus ini, baru saja menutup gelombang (batch) keempatnya.
Sejak pertama kali digulirkan pada tahun 2017, program ini fokus mencetak generasi pembelajar yang aktif, kritis, tangguh, dan mandiri lewat metode play-based learning (pembelajaran berbasis bermain).Melalui metode ini, siswa didorong untuk fokus pada pemecahan masalah serta kemampuan bersosialisasi.
Dampaknya, anak usia dini memiliki fondasi belajar yang lebih kuat serta daya tahan (resiliensi) akademik yang jauh lebih baik di masa depan, berbeda dengan metode lama yang hanya menitikberatkan pada kemampuan calistung (baca, tulis, hitung) secara kaku. Dampak Nyata di Ruang Kelas Berjalan sejak Juni 2025, Program AJARI Batch 4 ini melibatkan 20 fasilitator berpengalaman yang merupakan lulusan batch sebelumnya untuk melatih dan mendampingi 105 guru PAUD di 10 sekolah mitra.
Setelah hampir satu tahun pendampingan, dampak positif mulai terlihat nyata di lingkungan sekolah. Siswa kini tampil jauh lebih aktif, komunikatif, dan berani mengeksplorasi imajinasi mereka.
Kepala Sekolah TK Islam Miftahul Huda, Anita Dian Arifah, membenarkan adanya perubahan signifikan tersebut,"Dengan mengikuti program AJARI, guru menjadi lebih kreatif dan paham cara menyusun pembelajaran yang menyenangkan. Kualitas belajar meningkat pesat, anak-anak jadi lebih sering bertanya, mandiri, dan antusias membuat karya," ungkapnya.
Namun, mengubah pola pikir bukan perkara instan. Program Manager Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Galuh Paskamagma, menekankan bahwa tantangan terbesar dalam transisi ini adalah meruntuhkan stigma lama di masyarakat.
"Dukungan guru sangat luar biasa, tetapi kita butuh waktu ekstra untuk mengubah mindset bahwa anak yang pandai itu tidak melulu diukur dari kemampuan calistung di usia dini," jelas Galuh.
Apresiasi tinggi juga datang dari Bunda PAUD Kabupaten Kudus, Endhah Endhayani Sam'ani Intakoris. Menghadiri penutupan Program AJARI Batch 4, istri Bupati Kudus tersebut menegaskan pentingnya keberlanjutan program edukasi seperti ini.
"Kegiatan ini sangat bermanfaat dan layak didukung penuh. Guru PAUD adalah garda terdepan yang memberikan modal awal bagi generasi muda kita agar mampu bersaing di masa mendatang," tutur Endhah.
Selama sembilan tahun perjalanannya melintasi empat angkatan, Program AJARI tercatat telah melatih dan mendampingi sebanyak 659 guru di 46 sekolah mitra. Gerakan ini pun sukses memberikan dampak positif bagi 7.589 siswa PAUD di seluruh penjuru Kudus. Lewat peningkatan kompetensi guru secara masif, Kudus optimistis dapat melahirkan generasi emas yang siap membawa Indonesia ke puncak kejayaan. (han)

Posting Komentar