Dipatok Kementerian Pakai Spek Premium, Anggaran Toilet SD 1 Margorejo Capai Jutaan per Meter

Tim Disdikpora Kudus meninjau kegiatan revitalisasi toilet di SD 1 Margorejo senilai Rp119 juta yang bersumber dari APBN 2026.

JATENGPOSNEWS.COM, KUDUS-
Proyek revitalisasi toilet di SD 1 Margorejo, Kecamatan Dawe, menyedot perhatian publik, akibat nilai anggarannya yang tergolong jumbo. Menyikapi hal tersebut, pihak Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kudus serta tim perencana langsung angkat bicara untuk meluruskan duduk perkara pengalokasian dana APBN 2026 tersebut.

Plt Kabid Dikdas Disdikpora Kudus, Agus Subandi, menerangkan tingginya pagu anggaran murni disebabkan oleh penetapan Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) dari Kemendikdasmen. Berbeda dari pasaran lokal daerah yang berada di kisaran Rp2 juta–Rp3 juta per meter persegi, standar acuan pusat dipatok mencapai Rp3,5 juta–Rp4 juta per meter persegi.

"Soal tingginya nilai proyek, kami di daerah tidak bisa menjawab karena itu standar langsung dari kementerian. Perencana maupun sekolah hanya memasukkan unsur kerusakan dan volume pekerjaan," terang Agus di lokasi pengerjaan, Jumat (4/9).

Ia menambahkan, persentase kerusakan awal sempat dilaporkan sebesar 95 persen. Namun, setelah melewati proses verifikasi ulang dan efisiensi, tingkat kerusakan riil diputus pada angka 65 persen. Pengerjaan fisik kini difokuskan pada dua unit toilet baru (masing-masing 4 kloset dan fasilitas wudu) untuk siswa putra-putri, serta renovasi ruang perpustakaan.

Sementara itu, Perencana Revitalisasi SD 1 Margorejo, Dhini Yuniastuty, menekankan bahwa nominal anggaran yang keluar merupakan kalkulasi sistem atas input data lapangan. Karena mengikuti standar AHSP pusat, spesifikasi material yang dipakai otomatis masuk kategori kelas atas.

"Materialnya wajib kualitas premium. Kloset dan wastafel memakai Toto, pintu UPVC, atap Galvalum Berpasir Kencana, serta plafon Elite," rincinya.

Di tengah proyek yang berjalan sejak dua pekan lalu, terdapat penyesuaian pengerjaan pada bangunan kelas. Pihak sekolah memilih menunda pengerjaan satu ruang kelas sembari menunggu kepastian dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus.

"Kami tidak berani menyentuh bangunan satunya karena ada potensi masuk Cagar Budaya. Kalau terbukti cagar budaya, pemugarannya harus pakai prosedur konservasi khusus," jelas Dhini.

Saat ini proyek dikerjakan oleh 10 tenaga kerja di bawah pengawasan pelaksana lapangan. Pihaknya mengejar target penyelesaian seluruh fasilitas pada akhir November mendatang, di mana progres fisik saat ini tercatat masih berada di angka 7 persen. (adm)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama