JATENGPOSNEWS.COM, KUDUS-Koreografer kenamaan Kinanti Sekar Rahina resmi meluncurkan karya tari terbarunya bertajuk "Tari Caping Kalo", di Kudus, Minggu (8/2) malam. Karya ini menjadi bentuk dedikasinya dalam mengeksplorasi kekayaan budaya lokal Kudus melalui gerak tari, yang bersumber dari ikon busana adat perempuan setempat, ‘Caping Kalo’.
Dalam peluncurannya, Sekar menjelaskan bahwa tarian tunggal ini merupakan representasi sosok perempuan Muria yang anggun, lincah, namun tetap setia menjaga akar tradisi.
‘’Perwujudan Caping Kalo adalah simbol kehidupan. Anyaman yang rapat dan halus menggambarkan kerukunan masyarakat, sementara kerangka bambu yang kokoh mencerminkan jiwa yang kuat dalam menjaga nurani,’’ ujar Sekar.
Kata Dia, tari ini merupakan karya kedua yang terinspirasi dari Caping Kalo. Sebelumnya, telah merilis ‘’Tari Lajur Caping Kalo’’ pada Oktober 2022. Jika karya pertama lebih menitikberatkan pada proses teknis dan filosofis pembuatan caping, maka "Tari Caping Kalo" kali ini berbicara tentang pemaknaan hidup sehari-hari.
‘’Bentuknya yang bulat melambangkan kepasrahan utuh kepada Sang Pencipta. Ini adalah tentang bagaimana sosok perempuan menjunjung tinggi Tuhan di atas segalanya, sebagaimana caping diletakkan di kepala,’’ imbuhnya.
Sementara itu, keunikan karya ini juga terletak pada komposisi musiknya. Melibatkan komposer Hamdani, lirik lagu tari ini ditulis dan dinyanyikan langsung oleh Romo Lukas Heri Purnawan MSF (Romo Ipeng). Menariknya, proses kreatif lirik dilakukan di Buenos Aires, Argentina, di tengah tugas misionarisnya.
‘’Tantangannya adalah menemukan suasana 'Jawa' di tengah budaya Argentina. Saya berharap syair ini dapat mempertajam pemahaman penonton akan filosofi Caping Kalo,’’ ungkap Romo Ipeng melalui pesan tertulis.
Sedang Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, memberikan apresiasi tinggi terhadap produksi GsT Production ini. Menurutnya, karya ini bukan sekadar gerak indah, melainkan media edukasi bagi generasi muda.
‘’Seni tari memiliki peran krusial dalam menyimpan dan mewariskan nilai tradisi. Saya berharap Tari Caping Kalo menjadi inspirasi untuk membangun karakter dan mempererat persatuan, serta memperkenalkan kekayaan Kudus ke khalayak luas,’’ tegas Endhah.
Diketahui, produksi tarian ini turut didukung oleh berbagai
pihak, termasuk Rumah Khalwat Rejosari, Iniibubudi Publishing, dan Asa
Academy of The Arts. Kini, Caping Kalo tidak lagi hanya sekadar pelindung panas
bagi petani, melainkan identitas yang hidup melalui gerak tari. (han)

Posting Komentar