Persaingan Kian Ketat, Timo Schuenemann Sebut Seleksi Timnas Putri Akan Semakin Sulit

Pelatih Timnas Putri Indonesia U-16, Timo Scheunemann.

JATENGPOSNEWS.COM, KUDUS-Kualitas pesepak bola putri Indonesia mengalami lonjakan signifikan, berkat kompetisi yang berjalan konsisten. Pelatih Timnas Putri Indonesia U-16, Timo Scheunemann, mengungkapkan bahwa perubahan sistem latihan klub menjadi kunci utama perkembangan performa para pemain muda saat ini. 

‘’Dulu sistem latihan klub masih buka-tutup karena turnamen jarang. Sekarang, dengan adanya liga selama 10 bulan yang bergulir setiap dua minggu, klub-klub mulai mengadopsi latihan non-stop,’’ ujar Timo.

Lanjutnya, dampak positif ini terlihat jelas pada kompetisi HYDROPLUS U-15 dan U-18, di mana kualitas individu pemain jauh lebih merata dan kompetitif dibandingkan tahun lalu.

Buka Peluang bagi 46 Pemain

Tim pemandu bakat memberikan kesempatan besar dengan menyaring hingga 46 pemain, bukan hanya 23 nama. Langkah ini diambil untuk memberikan opsi yang lebih luas bagi tim pelatih, termasuk pelatih asing Takumi yang akan menakhodai salah satu tim.

Proses seleksi dilakukan secara detail dan objektif melalui pengamatan mendalam di beberapa pertandingan. Timo menegaskan tiga indikator utama dalam penilaian pemain yakni soal kecerdasan bermain, dimana pergerakan tanpa bola, kemampuan screening informasi, dan akurasi pengambilan keputusan.

Selain itu, terkait fisik dan atletisme, tim pemantau akan melihat ketahanan stamina untuk menunjang performa penuh 2 x 45 menit dalam format 11 lawan 11. Serta berkaitan konsistensi posisi, membandingkan kualitas antar-pemain pada posisi yang sama untuk mendapatkan hasil yang adil.

TC di Kudus dan Imbauan "Jemput Bola"

Pusat pelatihan nasional (Training Center) dijadwalkan mulai bergulir pada 24 Juli mendatang di Kudus. Pada fase ini, para pemain akan dikumpulkan sebelum dilakukan pencoretan akhir (final cut). Untuk agenda uji coba, tim All-Stars akan fokus pada pertandingan internal antar-tim serta mengagendakan laga uji tanding melawan tim putra.

Menutup keterangannya, Timo memberikan wake-up call bagi talenta-talenta berbakat di luar Pulau Jawa untuk berani mengambil langkah besar. Sistem pemantauan saat ini berpusat di empat kota penyelenggara HYDROPLUS.

Beberapa pemain daerah tercatat sukses melakukan migrasi demi karier mereka, seperti Keisha (Papua ke Malang), Indira (Banjarmasin ke Bandung), Dian (Ternate ke Bandung), dan sang top skor Aylia (Yogyakarta ke Jakarta).

‘’Maka kami meminta para orang tua untuk lebih berani "jemput bola", dengan memindahkan anak-anak mereka ke klub atau sekolah sepak bola yang terintegrasi di kota-kota pusat pantauan tersebut,’’ pungkasnya. (han)

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama