Naili Hidaningrum Founder Snack Aning
JATENGPOSNEWS.COM PATI – Berawal dari modal hanya Rp5 ribu, usaha makanan ringan milik keluarga Naili Hidaningrum (37) kini berkembang hingga mampu menembus jaringan ritel modern. Melalui merek Snack Aning, usaha yang dirintis sang ibu sejak 1989 itu kini mempekerjakan 20 karyawan dan mencatat omzet sekitar Rp400 juta per tahun.
Naili merupakan generasi kedua yang meneruskan sekaligus mengembangkan usaha keluarga tersebut. Di bawah pengelolaannya, produk Snack Aning tidak lagi hanya dipasarkan dari warung ke warung, tetapi telah menjangkau jaringan distribusi Alfamart, termasuk DC Rembang dan DC Madiun.
Usaha tersebut awalnya dirintis oleh ibunda Naili, Aning Hidayati. Dengan modal Rp5 ribu, sang ibu membuat stik bawang secara sederhana di rumah. Setiap pagi produk dibuat, kemudian malam harinya dikirim ke sejumlah warung di sekitar tempat tinggal.
“Setiap dikirim kok habis, dikirim lagi kok habis. Akhirnya dari modal Rp5 ribu itu berkembang. Keuntungannya diputar lagi sampai sekarang,” tutur Naili.
Sebelum menekuni usaha makanan ringan, orang tua Naili sempat mencoba berbagai bidang usaha, mulai peternakan, pertanian hingga bekerja di pabrik. Keinginan untuk memiliki usaha sendiri kemudian mendorong keduanya merintis bisnis makanan ringan.
Pada awalnya, produk tersebut belum memiliki merek. Sang ibu kemudian memberikan identitas usaha dengan nama “Bawang Putih”. Namun, ketika hendak dipatenkan, nama tersebut diketahui telah digunakan pihak lain.
Nama itu kemudian diganti menjadi Snack Aning, diambil dari nama sang ibu dan digunakan sebagai identitas usaha hingga sekarang.
Perkembangan usaha semakin terbuka setelah produk mulai dipasarkan lebih luas. Pada 2015, Snack Aning mendapat fasilitasi dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati untuk menjajaki pemasaran di toko modern.
Pada tahun yang sama, Snack Aning mulai menjalin kerja sama dengan Alfamart. Dari sejumlah UMKM yang diajukan, produk Snack Aning menjadi salah satu yang lolos setelah melalui proses survei dan seleksi.
“Dulu dinas ingin banyak UMKM yang masuk toko modern. Karena kebijakan Pemkab sendiri, toko modern harus menyediakan ruang untuk produk UMKM. Dari dinas mengajukan beberapa UMKM, tapi setelah disurvei Alfamart, yang terpilih Aning Snack,” papar Naili.
Mulai 2017, pengelolaan usaha kemudian diserahkan sepenuhnya kepada Naili. Ia melanjutkan pengembangan usaha hingga pemasaran semakin luas.
Distribusi melalui Alfamart DC Rembang dimulai pada 2022, kemudian menyusul DC Madiun pada 2023. Saat ini, sejumlah produk Snack Aning yang dipasarkan melalui jaringan tersebut antara lain kerupuk ebi dan telo gadung.
Untuk distribusi DC Rembang, beberapa produk bahkan telah menjangkau ratusan gerai. Pengiriman dilakukan rutin tiga kali dalam sepekan untuk menjaga ketersediaan produk.
Selain melalui distribution center (DC), sebagian produk Snack Aning juga dipasarkan melalui jalur Barang Kirim Langsung (BKL).
Kerja sama dengan jaringan ritel modern tersebut turut memberikan dampak terhadap perkembangan usaha. Naili menyebut tambahan omzet yang diperoleh dari pemasaran melalui jaringan Alfamart dapat mencapai Rp15 juta hingga Rp30 juta per bulan, tergantung produk dan jaringan distribusinya.
Saat ini, Snack Aning memiliki sekitar 20 karyawan, mayoritas merupakan warga Desa Trangkil. Mereka terlibat dalam berbagai tahapan produksi, mulai pembuatan adonan, penggorengan, pengepakan hingga pemasaran.
Produk yang dibuat pun semakin beragam. Di antaranya kerupuk ebi, kerupuk bandeng, kerupuk keju, stik bawang, kerupuk terasi, telo gadung, talas, yuyu dan keripik pedas. Sementara menjelang Lebaran, permintaan sejumlah produk seperti kacang telur, pastel dan onde-onde biasanya meningkat.
Bagi Naili, masuknya produk ke jaringan Alfamart bukan hanya berdampak pada penjualan. Kehadiran produknya di toko modern juga meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap merek Snack Aning.
“Dengan masuk Alfamart, seperti membikin kepercayaan konsumen saya juga bertambah. Kalau menawarkan produk dan sudah masuk Alfamart, kan lebih terpercaya,” ujarnya.
Meski demikian, Naili menilai masuk ke jaringan ritel modern membutuhkan kesiapan usaha. Pelaku UMKM harus mampu menjaga kualitas sekaligus memenuhi kapasitas produksi dan ketepatan pengiriman.
“Kapasitas harus mencukupi, izin harus lengkap, kualitas barang harus konsisten. Barang yang dikirim ke Alfamart benar-benar saya pilih dan sortir lagi. Kualitas harus dijaga,” katanya.
Menurut dia, peluang kerja sama dengan ritel modern seharusnya tidak perlu ditakuti pelaku UMKM. Tantangan terbesar justru memastikan kemampuan produksi sesuai permintaan dan menjaga ketepatan waktu pengiriman.
“Kalau sudah masuk, pengiriman tidak boleh terlambat. Jadi harus berani mencukupi kapasitas yang diminta,” tandasnya.(*)


Posting Komentar